Air Mata di Antara Bunga
“Jangan pikirkan aku. Pulanglah, bujuk dia. Lagi pula, nggak mungkin seorang pengantin nggak berhias di hari pernikahannya, ‘kan?”
Rangga menyelimuti Sarah dengan telaten, tapi bibirnya justru menyeringai dingin.
“Biarkan saja. Kalau memang mau menikah dengan wajah berantakan, terserah dia. Bukankah dia sudah cukup sering jadi bahan tertawaan orang-orang Praya? Kalau dirinya sendiri nggak tahu malu, apa lagi yang bisa kulakukan?”
Kata-kata itu bahkan membuat dadanya terasa berat. Dia buru-buru menoleh, ingin melihat reaksi Sarah.