Rimba Memburu Senala
“Ini ..., kenang-kenangan yang kau buatkan untukku, dari potongan kayu pohon waru di tepi Danau Ambalika. Lihat, di bagian sayapnya ada coretan kecil—namamu: ‘Salman’. Kau mengukirnya sendiri sambil berkata, ‘Kalau aku lupa, tunjukkan ini padaku.’”
Baramundi menatap benda itu lama sekali. Kemudian ..., mata yang tadinya tenang itu berkabut. Tangannya bergerak perlahan, ragu, tapi akhirnya mengambil burung kayu itu, menggenggamnya erat.
“Burung ini ...,” bisiknya. “Aku pernah melihat ini ..., dalam mimpi. Tapi aku selalu mengira itu hanya ..., khayalan.”
Zulaika tersenyum, pelan lamun penuh getir. “Bukan. Itu nyata. Sama nyatanya dengan perasaan yang pernah tum
Hot Chapters