Antara Cinta dan Luka
Di luar, Jakarta malam berdenyut—suara motor ojek daring di gang sempit dan kilau lampu neon dari warung kopi menyusup lewat jendela.
Naya mengangguk, tangannya gemetar saat ia memasukkan USB ke laptop tua di meja studio. Layar menyala, menampilkan folder bertuliskan Ratna_2015.
“Ini tulisan tangan Mama,” gumamnya, suaranya serak seperti kaset tua yang tergores. Ia teringat, video dirinya kecil main piano di studio ini, ibunya tersenyum di sampingnya. Tapi kenangan itu terasa seperti kaca yang retak saat ia membuka file pertama—PDF berjudul Kontrak Lagu. Jantungnya melonjak, seperti roda yang berputar kencang.