Istana Yang Ternoda
“Siap, Pa. Udah lama juga nggak main basket bareng. Tapi kayaknya Papa yang harus siap kalah.”
Raffasya tertawa. “Wah, udah mulai nantang nih.”
Keesokan harinya, halaman belakang rumah yang luas dipersiapkan untuk permainan basket. Sebuah ring basket sederhana sudah berdiri sejak dulu, menjadi saksi kebersamaan yang dibangun di rumah itu. Raffasya menggulung lengan bajunya, sementara Narendra sudah mengenakan kaos olahraga. Tak lama, Pak Burhan dan Pak Haikal pun datang, membawa energi positif dan semangat kekeluargaan yang tak pernah luntur.
Bab Populer