Menantu yang Sengaja Dibuang
Aku ingin memastikan, apa benar cocok ukiran itu dengan kalung yang kupunya.
***
"Ibrahim, ini kalung milikku. Ini isi wasiat ayah."
Ibrahim mengulas senyum seakan tidak mengalami keterkejutan sama sekali, melihat ekspresinya aku jadi melupakan bahwa dia Al-Faqir itu, Al-Faqir yang bertugas mengantarkan surat misterius kala itu.
"Ouh, pasti kamu sudah membacanya dan tau isi surat ini, ya?"
"Tidak, Mutia. Aku tidak berani membaca surat yang bukan menjadi milikku, tetapi aku jika boleh jujur, aku mengetahui bahwa kita sudah dijodohkan sedari kecil."
Capítulos em Alta