DITOLAK OM-OM
"Kenapa harus malu? Mungkin dulu memang saya yang keterlaluan. Belum terbuka pikirannya kalau anak perempuan itu kebanyakan memang mengalami masa pubertas lebih cepat. Ya, walaupun sebagian jiwa anak-anaknya masih ada. Harusnya saya memaklumi, bukan menghakimi dengan kata-kata yang mungkin sangat menyakitkan untuk anak sepuluh tahun."
Om Bas juga banyak berubah setelah berstatus jadi suami. Tambah matang, berbeda jauh sekali dengan pasangan gesreknya ini. Badan doang yang gede, tapi pikiran masih labil.
Dia tertawa kecil, mungkin sama-sama menyadari bahwa kita pernah berada dalam satu kisah yang sangat konyol untuk dikenang.
"Kok, dulu bisa kepikiran suka sama Om-om. Bukannya teman lelakimu