Ibu Empat Anak: Beda Bapak!
Ia menoleh ke Nasya, dengan sorot mata penuh rasa prihatin, “Mbak Nasya, dengar kata-kata saya ini baik-baik. Kalau Mbak Nasya sayang sama masa depan, mendingan cepetan angkat kaki dari rumah ini. Jangan sampai nanti Mbak juga dijadiin pembantu gratisan! Belum telat, Mbak!”
Melati nyaris tersedak, “Hei, Minah! Kamu itu siapa, nasihatin menantu saya begitu!”
Minah mendengus, “Saya ini hanya pembantu, Bu, tapi pembantu yang ngerti rasa kemanusiaan! Dan kalau Ibu sudah nggak butuh saya, ya sudah, saya pergi…!” Dengan gaya dramatis, dia melirik ke Nasya sekali lagi. “Ingat ya, Mbak Nasya, saya pamit dengan pesan terakhir: Selamat berjuang! Sepertinya mbak jadi pengurus rumah gratisan yang nggak