Ketika Adat Menentang Cinta
Setiap hari aku berkelahi, tak terkendali, layaknya sebuah mobil kehilangan kontrol, rem blong, kecepatan penuh, siap menabrak apapun yang ada didepan, terjun kejurang, sungai, bahkan lebih dari itu, bisa meledak.
Beruntung, Tuhan masih menolongku, 2 sahabat yang tidak akan pernah terlupakan. Membantu melewati hari – hari kelam dalam hidupku. Terima kasih Tuhan. Mereka berdua jugalah yang melepas kepergianku.
“Ciang! Ciang! Ciang! Hey, kau kenapa? Kau baik – baik saja kan?” Ahmad memutus lamunanku.
Sikat na Kabanata