Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Kebohongan Sahabat Masa Kecilku

Kebohongan Sahabat Masa Kecilku

Wajah tampannya pucat dan menyedihkan, dia meraih tanganku dengan putus asa. "Aurel, aku nggak berani pergi sendirian ke lingkungan yang asing." Aku dan Lorenzo bisa dibilang teman masa kecil. Sejak TK kami berangkat dan pulang sekolah bersama, dan itu tak pernah berubah selama belasan tahun. Belum lagi aku diam-diam juga menyukainya. Jadi karena terbawa perasaan, aku menjanjikan, "Jangan takut, kamu ke mana pun, akan kutemani."
15.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 405 kali sebagai cerpen masa kecil
Baca
+Pustaka
Jerat Rahasia Teman Masa Kecilku

Jerat Rahasia Teman Masa Kecilku

“Pernah, saat SMA.” Pembicaraan mereka panjang lebar dan terdengar seru. Nara menceritakan ketika dia SMA dan pulang larut karena kerja kelompok membuatnya dihadang 2 lelaki mabuk. Dan saat itulah jurus ajaran Aland berguna baginya.
101.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 48 kali sebagai cerpen masa kecil
Baca
+Pustaka
Membalas Suami dan Sahabatku

Membalas Suami dan Sahabatku

tegasku karena aku sudah tidak sabar. "Nggak bisa secepat kilat dong, Sandra. Segala sesuatu itu butuh proses. Secepat kilat itu hanya ada di komentar emak-emak di grup menulis yang biasanya tidak sabar menunggu kelanjutan cerbung dari author favorit mereka." Sontak aku terkejut saat Mas Romi membahas tentang cerbung dan grup kepenulisan. Apakah Mas Romi juga suka membaca cerita atau novel? Jika iya, berarti ia sama denganku.
1034.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.2K kali sebagai cerpen masa kecil
Baca
+Pustaka
Sexiest Journalist

Sexiest Journalist

“Ayo, Ma. Cerita!” “Cerita apa enaknya?” “Cerita … umm, Mama kalau kerja ngapain aja.” “Oh …” Gemi merebahkan tubuhnya tepat di atas selimut tersebut. Melipat kedua tangannya di atas perut, lalu mulai bercerita tentang kegiatan sehari-harinya menjadi wartawan. Selama Gemi bercerita, gadis kecil itu menjadikan tubuh Gemi sebagai guling. Merapatkan tubuh kecilnya, dan Gemi hanya berani memberi Chandie tepukan pelan di atas lengan gadis itu.
9.9166.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 6.5K kali sebagai cerpen masa kecil
Tampilkan Ulasan (71)
Baca
+Pustaka
ar Kim
kak buat seasonnya dong ... ihhh .... AQ gemes sama chandi dan adik2 nya... jangan Fesi dewasa. versi anak2nya aja ... di part terakhir ngena banget deh.... AQ dan keluarga Kim sabar menunggu ya kak... semangattt
damai
Mengandung bawang...., pelajaran utk semua ibu, anak gadis, perempuan dewasa, pentingnya menjaga diri. pelajaran hidup terbaik, jgn kepentok dulu, baru terjaga. the best kak kanietha...., biar nyambung abis ini duka cita, baru cinta cita.....
Baca Semua Ulasan
Ternoda sebelum Malam Pertama

Ternoda sebelum Malam Pertama

Bersambung Oke, Kakka yang tidak sabar mengikuti alurnya. Boleh cukup sampai di sini ya, saya sedang menulis novel bukan cerpen, silakan nikmati saja alurnya, insyaaAllah banyak ibrah yang bisa diambil, jangan lupa tinggalkan jejaknya. ? Sudah baca cerita author yang lain : 1. Dilamar Anak Kiai (End) 2. Marry Me Gus! 3. Ketikung Anak Kiai 4. Naik Ranjang Ibuku
1023.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 731 kali sebagai cerpen masa kecil
Baca
+Pustaka
Jejak di Balik Pesantren

Jejak di Balik Pesantren

Penjaga Halaman Kosong Tiba-tiba, dari antara gumpalan awan, muncul sosok kecil, berambut kelabu, mengenakan kemeja tinta lusuh dan membawa pensil pendek di telapak tangannya. Ia memperkenalkan diri sebagai: “Anak Kalimat.” “Aku lahir dari naskah yang ditinggalkan setengah jalan. Dari cerita yang dilupakan.” Ia menunjuk tugu kosong di tengah lapangan.
2.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 79 kali sebagai cerpen masa kecil
Baca
+Pustaka
Istri Warisan Sahabat

Istri Warisan Sahabat

Happy Reading ***** "Adik, jangan lari-lari! Mas, nggak mau main sama kamu lagi," ucap seorang anak kecil pada adik perempuannya. "Masak gitu aja dah capek, Mas? Nggak seru, ih." Dia cemberut karena masnya tidak mau lagi mengejar. "Terserah. Dasar Adik manja." Anak kecil itu meninggalkan adiknya yang mulai menjerit dan menangis memanggil orang tuanya.
103.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 111 kali sebagai cerpen masa kecil
Baca
+Pustaka
Gadis Kecil

Gadis Kecil

Raka menatap sedih sambil menggelengkan kepalanya, menyentuh dadanya dengan tangan terkepal. "Nggak usah drama! Jijik lihatnya, lagian gue belum pikun. Mana ada lo cerita tentang percintaan, gue lebih sering dengar tentang pasien-pasien lo yang kecil itu." Lucas menatap kesal kearah Raka yang hanya tertawa.
698 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 22 kali sebagai cerpen masa kecil
Baca
+Pustaka
MEMATAHKAN SUMPAH IBU

MEMATAHKAN SUMPAH IBU

Memperlakukanku bagai seorang tahanan yang bebas mereka aniaya kapan pun mereka butuh pelampiasan. Lambat laun, aku merasa kehilangan jiwaku di rumah. Untunglah teman-temanku di MTs sekarang baik-baik, tidak seperti teman waktu aku SD. Aku menyukai pelajaran bahasa, baik bahasa asing, lokal mau pun nasional. Aku sering membuat cerpen untuk teman-temanku dengan nama mereka sebagai lakon utamanya, dan mereka menyukainya. Ada yang membalasnya dengan membuat cerpen atas namaku juga, namun tak sedikit pula yang kesal lalu menjadikanku bulan-bulanan karena di cerita itu aku menjodohkan mereka dengan murid paling buruk rupa. Bagian paling menyenangkan adalah ketika seseorang merebut cerita yang tel
102.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 50 kali sebagai cerpen masa kecil
Baca
+Pustaka
Cinta di Antara Sawah

Cinta di Antara Sawah

“Cemburu itu seperti api di jerami, kecil dulu tapi cepet ngebakar.” — Peribahasa Jawa, Sidomulyo Pagi di SMA Sidomulyo terasa ramai, suara bel masuk bercampur teriakan anak-anak yang lari ke kelas. Bau kapur dari papan tulis dan aroma rumput basah dari lapangan sekolah bikin suasana khas 80-an. Poster film “Gita Cinta dari SMA” yang pudar nempel di dinding koridor, bikin Ardi Santoso inget Sari Wulandari. Dia jalan ke kelas dengan tas kain lusuh, sepatunya penuh debu sawah. Pikirannya masih ke malam di warung kopi, ke senyum Sari, dan cemburu Rendra Wijaya. Dia gak suka aku deket sama Sari, pikirnya sambil nyengir kecil, ngerasa menang meski Bapak selalu bilang dia cuma anak petani.
908 DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 24 kali sebagai cerpen masa kecil
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status