Dari Budak Menjadi Bencana
Dan ia menangis, bukan dengan suara keras, tetapi dengan isakan yang memilukan yang merupakan sumber dari semua keputusasaan yang kami rasakan.
"Aku diperintahkan untuk memilih," bisik figura itu, suaranya adalah suara yang telah kudengar sebelumnya, namun kini jelas dan penuh penderitaan. "Pilih salah satu dari dua anak kesayanganku untuk dikorbankan, agar yang lain bisa hidup. Atau biarkan keduanya mati. Aku... memilih. Dan hidup dengan pilihan itu selama sisa keabadianku. Lebih baik... lebih jika aku bisa melupakan. Lebih baik jika semua orang melupakan aku, dan pilihanku yang keji itu."