Rasa Dari Keremajaan
Aroma vanilla yang familiar langsung memenuhi ruangan, bahkan sebelum sosoknya terlihat.
Kak Clarissa masuk dengan langkah santai, membawa dua cup kopi bermerek mahal (bukan kopi kantin). Dia tidak lagi memakai seragam, melainkan pakaian bebas yang modis—hak istimewa alumni yang sedang menunggu ijazah keluar.
"Selamat siang, para budak birokrasi," sapanya ceria.
"Kak Clarissa," Shinta mengangguk sopan, meski aku melihat sedikit ketegangan di matanya. Shinta selalu merasa terintimidasi oleh aura 'Ratu' milik Clarissa.