Purba Sang Pemuas
tanya Arya polos sambil melompat turun dari atas meja dengan suara berdebam.
"Namaku Clarissa, dasar Manusia Gua! Itu namanya proyektor, alat buat presentasi, bukan Mata Dewa atau sihir apa pun yang ada di otak udikmu itu!"
Clarissa mendengus kesal sambil kembali duduk di kursinya, berusaha mengabaikan debaran jantungnya yang mendadak tidak beraturan. Munafik memang, di luar dia selalu memuja pria-pria lembek berbaju rapi, tapi melihat tubuh kekar Arya tadi, perutnya terasa mulas aneh. Ada sesuatu dari aura jantan pria barbar itu yang membuat bulu kuduknya meremang dengan cara yang sangat nikmat.
Bab Populer