Setelah Kamu Pilih Dia
Satu email bahkan datang dari media internasional, menanyakan izin penerjemahan.
Tapi Dinda tak langsung menjawab semuanya.
Ia hanya menyetujui satu undangan — dari sebuah podcast kecil yang dulu pernah mengulas karya tulis Arsen.
Podcast itu tak punya banyak pendengar, tapi Dinda tahu: mereka bukan sekadar mencari sensasi.
Di hari rekaman, Dinda datang sendiri. Mengenakan blus biru muda dan celana hitam, rambut dikuncir simpel. Ia duduk di depan mikrofon, menatap host di seberangnya.