SARANG PREDATOR
Adel membawaku pulang sepulang kuliah, dan karena aku tahu aku akan makan malam dengan Adib, aku pergi ke kamar untuk mengerjakan PR.
Jam empat lewat sedikit, Adib muncul.
“Kau siap untuk pergi?” dia bertanya.
"Tentu," kataku sambil menutup buku. Namun, ketika aku berdiri dan berbalik menghadapnya, aku menjadi lengah. Mata Adib tampak bengkak, dan bibirnya pecah. Bergegas ke arahnya, aku mengulurkan tangan untuk menyentuhnya, tetapi berhenti sebentar, mengira itu mungkin menyakitkan. “Ya Tuhan, Adib. Apa yang terjadi?"