Dimanja Tiga Majikan Cantik
"Lagian liat tuh, lukisan aku di dada kamu bagus kan? Abstrak tapi artistik gitu, harusnya bisa bagus lukisannya, tapi catnya kentel, terus warnanya cuma ada satu jenis aja."
"Artistik palalu itu, Raf!" Shella mencubit pinggangku, tapi kemudian dia melingkarkan tangannya di leherku, menarikku kembali ke dalam pelukan hangatnya. "Tapi... makasih ya. Kamu beneran jaga aku, meskipun akunya tadi udah gila minta macem-macem."
Kami pun terbaring berpelukan dalam kondisi berantakan itu, menikmati sisa-sisa kehangatan dan kedekatan yang baru saja kami bangun tanpa sekat.