Sentuhan Adik Sahabatku
“Birru bisa ngecat?”
Jennar tersenyum kecil. “Bisa, Ma. Nanti aku bantu. Sekalian pagar juga. Biar rapi, dan cakep.”
Priska terkekeh pelan, lalu menggeleng. “Jen, itu luas. Pagar juga panjang. Mending panggil orang saja.” Ia menunjuk pagar besi yang catnya mengelupas, memperlihatkan karat di sela-selanya. “Ada Kang Uus, langganan ibu-ibu komplek sini. Seratus lima puluh ribu sehari. Mungkin butuh dua sampai tiga hari.”