Hai Om, Aku Calon Istrimu!
Selain meja kerja besar di dekat jendela, ada sofa abu muda, rak buku berisi berbagai penghargaan teknologi, dan—anehnya—sebuah dapur mini di sudut kanan lengkap dengan mesin kopi, kulkas kecil, dan minibar.
“Ini ruang kerja atau apartemen, Om?” tanyaku heran.
“Dua-duanya,” jawabnya sambil menaruh ponsel dan kunci mobil di meja. “Kadang aku lembur sampai pagi di sini. Jadi, harus bisa dipakai hidup juga.”
Aku terkekeh pelan. “Wajar aja betah, suasananya cozy banget.”
Om Kais berjalan ke arah minibar, membuka kulkas, lalu mengeluarkan sebotol jus jeruk. Dia menuangkan ke gelas kaca dan menyodorkannya padaku.