Ada sesuatu yang sangat personal tentang cara Dee Lestari mengeksplorasi ketidaksempurnaan manusia dalam 'Tanpa Rencana'. Buku ini seperti percakapan tengah malam dengan sahabat lama—raw, jujur, dan kadang-kadang membuat kita tersentak. Karakter-karakternya tidak heroik, justru itulah kekuatannya; mereka membawa kita masuk ke dalam dilema sehari-hari yang sering kita abaikan.
Yang menarik, banyak pembaca mengeluh bahwa ceritanya 'terlalu realistik' sampai-sampai terasa seperti mengintip diary orang lain. Tapi bukankah itu justru seni Dee? Dia membungkus filosofi hidup dalam dialog-dialog sederhana, membuat kita merenung tanpa merasa digurui. Beberapa teman di klub buku sering bilang, 'Ini bukan bacaan escapism, tapi semacam terapi literer.'