Cinta Sejatinya
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Dimas melirikku dengan penuh sindiran, lalu terus berbicara dengan nada sinis, “Orang miskin memang begitu, tidak pernah melihat barang bagus, mereka menganggap batu pecahan sebagai harta, tidak punya kelas sama sekali.”
Aku tidak tinggal diam, “Benar, aku memang memiliki pandangan yang buruk. Dulu aku menganggap sampah itu harta, tapi sekarang aku sudah sadar, sampah ya harus dibuang ke tong sampah, biar tidak ikut bau busuknya!”
“Kamu!” Dimas mendengar sindiranku, langsung menunjukku dengan jari dan memberi peringatan agar aku diam.
Aku tersenyum tipis, “Dimas, aku bukan lagi bilang kamu. jangan merasa tersinggung.”
Bab Populer