Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Kebohogan Suamiku Demi Menutupi Aib Keluarganya

Kebohogan Suamiku Demi Menutupi Aib Keluarganya

Saat suamiku pergi ke toilet, ponselnya berdering. Aku melirik sekilas. Telepon dari adik suamiku, Ruslan. Aku mengernyit, tetapi tetap mengangkatnya. "Kak, uang bulanan 20 juta buat Ayah dan Ibu kok belum ditransfer? Ibu barusan nanya ke aku." Telepon ditutup. Darahku seolah-olah mengalir terbalik. Suamiku berdiri tepat di depan pintu toilet dan tangannya bahkan belum dikeringkan dari air. Aku menarik sudut bibirku. "Gajimu 16 juta, cicilan rumah 6 juta, kasih aku 4 juta, kamu simpan sendiri 2 juta. Kamu bilang kasih orang tuamu 4 juta, kok jadi 20 juta?" Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara. Wajahnya sangat pucat, sementara tanganku gemetar hebat. Selama lima tahun, aku tak pernah sekali pun melihat kartu banknya. Lalu, apa lagi yang tidak aku ketahui?
9.4K viewsCompletedAdded to Library 235 Times as dialog telepon
Read
+Library
Sang Pewaris Konsorsium

Sang Pewaris Konsorsium

Daffa Halim, mahasiswa yang biasa-biasa saja selalu dipandang rendah oleh masyarakat. Tepat ketika dia mengira hidupnya menjadi terpuruk, sebuah telepon dan warisan dadakan mengubah kehidupannya. Mulai sekarang, dia sudah bukan lagi mahasiswa biasa. Dia adalah Daffa Halim, satu-satunya pewaris Konsorsium Halim!
994.0K viewsCompletedAdded to Library 3.8K Times as dialog telepon
Read
+Library
Di Hari Nikah, Aku Pergi

Di Hari Nikah, Aku Pergi

“Nona Liana Tandra, kami telah menyiapkan mayat yang persis sepertimu sesuai permintaan Anda. Sepuluh hari kemudian, kami akan mengirimkannya ke pernikahanmu dengan Tuan Hansen Gunadi.” Setelah mendengar jawaban dari staf di telepon, ketegangan Liana selama berhari-hari akhirnya sedikit mereda. “Baik, terima kasih.” “Sama-sama, ini memang pekerjaan kami. Anda tidak perlu khawatir, tidak akan ada yang curiga dengan mayat ini.” Setelah mendapatkan jaminan, Liana menghela napas lega. Kemudian dia memastikan lagi rincian pengiriman mayat dengan staf, dan menutup telepon lalu masuk ke dalam ruangan VIP. Ruangan VIP yang awalnya berisik, seketika semua orang terdiam saat melihatnya masuk.
27.8K viewsCompletedAdded to Library 723 Times as dialog telepon
Read
+Library
Cinta Rumit Tiga Sekawan

Cinta Rumit Tiga Sekawan

"Wenny, sejak kamu kecil, keluarga kita sudah menjodohkanmu. Sekarang kan penyakitmu sudah hampir sembuh, apakah kamu mau pulang ke Kota Jintara dan menikah? Kalau kamu tetap nggak mau, aku akan bicara lagi sama ayahmu untuk membatalkan perjodohan ini." Di dalam kamar yang remang-remang, Wenny Sanjaya hanya bisa mendengar keheningan. Saat orang di ujung telepon hampir menyerah untuk membujuknya lagi, tiba-tiba dia berkata, "Aku mau pulang untuk menikah." Bu Maya Sanjaya tertegun di seberang telepon, seperti tidak menyangka, "Kamu ... kamu setuju?" "Wenny menjawab dengan tenang, "Ya, aku setuju. Tapi, aku masih butuh waktu untuk menyelesaikan urusanku di Kota Hanis. Aku akan kembali dalam dua minggu. Ibu, kalian siapkan saja dulu pernikahannya." Setelah mengucapkan beberapa pesan tambahan, dia menutup telepon.
6.1K viewsOngoingAdded to Library 134 Times as dialog telepon
Read
+Library
Cinta yang Luruh Bersama Cahaya Terakhir

Cinta yang Luruh Bersama Cahaya Terakhir

Saat aku melakukan pengambilan sel telur yang ketiga kalinya untuk program bayi tabung, Johannes sedang lembur dan tidak bisa menemaniku. Aku terbangun tengah malam karena kesakitan. Aku mendapati tangan dan kakiku bengkak, sedangkan perutku penuh cairan hingga membengkak bagaikan wanita hamil delapan bulan. Aku hampir tidak bisa bernapas dan dengan panik meraih ponsel untuk menghubunginya. Telepon berdering selama semenit sebelum diangkat. Namun, yang mengangkat telepon bukanlah Johannes, melainkan seorang wanita asing. "Halo?" Suaranya terdengar lembut dan penuh gairah. "Siapa kamu? Johannes, aku nggak bisa bernapas." "Kamu nakal. Kenapa kamu masih pakai baju?" Plak! Terdengar suara cambukan yang nyaring dengan diiringi erangan wanita. Kemudian, panggilannya pun terputus.
5.0K viewsCompletedAdded to Library 110 Times as dialog telepon
Read
+Library
Pemandangan Terakhir Anakku

Pemandangan Terakhir Anakku

Di hari ulang tahun putra kami yang kelima, kami sekeluarga pergi melihat hujan meteor. Di tengah perjalanan, suamiku menerima telepon dan pergi terburu-buru. Tengah malam, asma putraku kambuh dan satu-satunya obat yang ada malah tertinggal di dalam mobil suamiku. Aku menggendongnya, berlari pontang-panting di tengah alam liar yang sepi tak berpenghuni. Aku berulang kali mencoba menelepon suamiku, tapi yang kudapat hanyalah balasan pesan dingin yang berisi, [Aku ada urusan mendesak, jangan ganggu.] Keesokan harinya, akhirnya aku menerima telepon dari suamiku. Tapi, yang terdengar malah suara cinta pertamanya. “Tadi malam tiba-tiba anjingku sakit dan meninggal. James takut aku sedih, jadi dia menemaniku semalaman. Dia baru tidur sekarang, kalau ada pesan, sampaikan saja padaku.” Aku mengelus wajah putraku yang sudah membiru, lalu menjawab, “Sampaikan padanya, kita cerai saja.”
1.8K viewsCompletedAdded to Library 49 Times as dialog telepon
Read
+Library
Mencintai dalam Diam

Mencintai dalam Diam

"Tante, aku sudah memikirkannya dengan matang. Aku bersedia meninggalkan Keluarga Buwono dan pergi ke luar negeri untuk tinggal bersamamu." Di ujung telepon, suara Tante terdengar sangat gembira, memberikan nasihat dengan tulus. "Baiklah, Kania, aku akan segera mengurus visamu. Mungkin butuh makan waktu sekitar satu bulan. Manfaatkan waktu ini untuk berkumpul dengan teman-teman dan rekan-rekanmu, karena setelah menetap di Zelandia, kalian mungkin akan sulit bertemu. Jadi, gunakan kesempatan ini untuk mengobrol dan berpamitan dengan baik." "Terutama dengan om kamu. Dia telah membesarkanmu dengan penuh kasih sayang. Kebaikan dan pengorbanannya nggak akan pernah bisa dilupakan. Kamu harus benar-benar berterima kasih padanya." Kania mengangguk pelan beberapa kali. Setelah menutup telepon, dia bangkit dan berjalan dari balkon kembali ke ruang tamu, tanpa sadar menatap foto yang terpajang di atas meja.
26.8K viewsCompletedAdded to Library 965 Times as dialog telepon
Read
+Library
Cinta yang Dulu Begitu Indah

Cinta yang Dulu Begitu Indah

Nayla Ginanjar berdiri di depan kantor catatan sipil, mengajukan permintaan menikah kepada Renzo Kamari untuk ke-99 kalinya. Namun, Renzo tetap tidak datang. Di telepon, dia hanya berkata dengan nada datar, "Kalau kita menikah sekarang, akan ada yang mati. Tunggu dulu." Belum sempat Nayla mengatakan apa pun, telepon sudah ditutup oleh Renzo. Teman-teman di sampingnya tidak mengerti apa yang terjadi. Di tangan mereka, kamera masih terangkat dan siap merekam momen ketika pasangan itu menerima akta nikah. Namun, melihat ekspresi Nayla, mereka ikut tertegun. "Kamu dan Renzo tumbuh bersama dari kecil selama belasan tahun, hubungan kalian sedekat itu. Dia benar-benar nggak datang hari ini?" Nayla hanya tersenyum getir dan tidak menjawab. Dulu, hubungan mereka memang sangat baik dan bahkan bisa dibilang hampir sempurna. Renzo hampir mengisi seluruh kehidupan Nayla.
5.5K viewsCompletedAdded to Library 169 Times as dialog telepon
Read
+Library
Karier Magang Putri Presdir

Karier Magang Putri Presdir

Hari pertama kerja, rekan kerja baru terus menyampaikan dia adalah Putri Presdir, membuatnya jadi pusat perhatian dan semua orang menjilatnya! Dan aku, difitnah mereka selingkuhan dari pria tua! Aku dengan kesel telepon ke Presdir. “Ayah, mereka bilang kamu pria tua, dan ada selingkuhan......”
4.5K viewsCompletedAdded to Library 125 Times as dialog telepon
Read
+Library
Merelakan Cinta Pertama, Menerima Perjodohan yang Ditetapkan

Merelakan Cinta Pertama, Menerima Perjodohan yang Ditetapkan

"Pa, Ma, aku sudah setuju pulang ke kampung halaman untuk ikut perjodohan dan menikah. Aku akan pulang akhir bulan ini." Awal musim semi, udara masih dingin. Sambil membuka pintu, Kathleen berbicara di telepon. Suaranya yang lembut hanyut bersama hujan yang deras. Dia merapatkan kerah bajunya, lalu mendengar kedua orang tuanya di seberang telepon menghela napas lega. "Kathleen, kesehatan Papa dan Mama makin menurun beberapa tahun ini. Kami cuma berharap kamu bisa segera berkeluarga. Bagus kalau kamu sudah memikirkannya dengan matang. Nanti setelah kamu pulang, Ibu akan minta Tante Olivia atur beberapa calon yang cocok untuk kamu temui." Mendengar orang tuanya sudah mulai mengatur semuanya, tatapan Kathleen sedikit bergetar, seolah-olah belum sepenuhnya sadar. Setelah berbasa-basi beberapa kalimat lagi, telepon pun ditutup. Dia melirik rumah itu sekilas, lalu kembali ke kamar dan mulai membereskan barang-barangnya.
3.3K viewsCompletedAdded to Library 90 Times as dialog telepon
Read
+Library
PREV
123456
...
13
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status