Candu Dekapan Kakak Ipar
Ucapan itu justru menjadi pisau yang menghujam lebih dalam.
Djiwa sudah terlalu sering mendengarnya. Terlalu sering berharap. Dan terlalu sering pulang dengan tangan kosong, tanpa kehidupan yang tumbuh di rahimnya.
Dadanya terasa sesak. Tenggorokannya tercekat.
Tanpa berkata apa pun lagi, Djiwa berbalik dan melangkah cepat meninggalkan dapur.
Langkahnya semakin tergesa, napasnya tak beraturan, pandangannya kabur oleh emosi yang berjejal—kecewa, sakit hati, dan perasaan gagal yang menyesakkan.