Istri yang tak Berharga
“Aku tidak pernah berniat mempermainkan kamu, Fahri. Aku hanya ingin… dicintai, di cintai dengan tulus, dengan versi diriku sendiri, bukan saat aku menjadi orang lain.”
Fahri tertawa sinis, suara tawanya penuh getir. “Dicintai? Hah! Kamu pikir cinta bisa datang dari kepura-puraan? Kamu sama saja dengan orang-orang yang munafik. Aku semakin muak, Aisyah. Benar-benar muak.”
Aisyah menunduk makin dalam, tangisnya pecah tanpa bisa ia tahan.
Fahri melangkah menuju pintu kamar, membuka dengan kasar hingga terdengar bunyi keras. Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi. Tatapannya dingin, benci, dan penuh luka.
Hot Chapters