PERJAKA NEXT LEVEL
Hanya suara ciuman—basah, lengket, terengah-engah, terlalu lama, seperti mereka lupa dunia di luar ruangan itu.
Mila bersandar di meja, kayunya bergeser pelan di bawah beban tubuhnya. Kemeja putihnya terbuka tiga kancing, memperlihatkan bra hitam berenda yang menyangga payudara penuh—meluber lembut ke sisi, bergoyang pelan setiap kali napasnya naik turun. Tubuh montok berlemak, seperti adonan yang baru diuleni. Pinggangnya bergumpal, perutnya bergelombang.
“Ah, Sayang… aku… aku ngga tahan.” Mila mendesah.