Cinta di Ujung Perpisahan
“Kalau hanya untuk memeriksa kesehatan, tidak masalah. Papa nggak perlu khawatir, ya?”
Tama menghela napas panjang, lalu mengangguk dengan raut lega. “Baiklah. Hati-hati di jalan. Sampai apartemen nanti, kabari Papa.”
Kinara mengangguk. “Iya, Pa.”
Ia masuk ke dalam mobil, menutup pintu perlahan, lalu menyalakan mesin. Mobil itu perlahan melaju keluar dari halaman rumah, meninggalkan deru lembut di belakang. Dari kaca spion, Kinara masih bisa melihat Tama berdiri di tepi garasi, mengangkat tangan kecilnya sebagai salam perpisahan.
Hot Chapters