Cinta yang Kadaluarsa
Terdengar tawa menjijikkan, penuh kesenangan atas penderitaan orang lain.
Aku menahan rasa mual, menunggu jawaban Adrian.
Aku mau dengar dia berkata: Jangan bercanda, aku mencintai Diana.
Atau setidaknya: Ini terlalu kejam untuk seorang cewek.
Tapi setelah hening beberapa saat, yang kudengar justru suara beratnya yang tenang.
"Hmm, ide yang bagus. Bakal kulakukan deh."
Seketika, amarah yang tak terhingga menyesakkan dadaku.