Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Saat Cinta Menyapa Lagi

Saat Cinta Menyapa Lagi

"Siapa kau yang berhak menentukan apa yang bermutu dan apa yang tidak?" "Aku adalah perwujudan dari selera estetika yang murni," jawab Neo-Editor. "Lihatlah semesta ini, ia hanya berisi tumpukan sampah memori seorang petani tua. Apa gunanya itu bagi multiverse?" Nara mengajak Neo-Editor masuk ke dalam semesta petani tua tersebut. Di sana, mereka melihat sang petani sedang merawat tanaman dengan penuh kasih sayang, dan setiap tanaman itu menyimpan memori tentang cintanya pada istrinya yang sudah tiada.
910 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 29 kali sebagai filosofi teratai
Baca
+Pustaka
PEMBALASAN DEWA MAUT

PEMBALASAN DEWA MAUT

Dewa Maut mengangguk perlahan, seolah-olah ia sedang mempertimbangkan sebuah argumen filosofis yang usang. “Kalian benar,” katanya, menguji kata-katanya. “Elementalisme kuno kalian benar. Air menetralkan api, tetapi petir menguapkan air. Angin menyebarkan api, tetapi batu menstabilkan angin.”
103.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 111 kali sebagai filosofi teratai
Baca
+Pustaka
CINTA TERSEMBUNYI TUAN TANAH

CINTA TERSEMBUNYI TUAN TANAH

Anggara telah memperkenalkan Citra pada dunia yang belum pernah ia kenal. Aroma pegunungan dengan hembusan angin yang sejuk dan di sekeliling mereka terdengar suara denting gelas dan dengung percakapan. Teras itu di penuhi orang orang, namun rasanya seolah olah hanya ada mereka berdua.
1.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 62 kali sebagai filosofi teratai
Baca
+Pustaka
Sejuta fikiran

Sejuta fikiran

Sang korban hanya menghela nafas sambil tersenyum kecil. "Tidak sopan" "Em, maaf" Argebi tidak enak hati "Tidak apa-apa" "Lalu dimana ini?" Argebi tidak kenal dengan tempat ini? menatap kejendela, hanya ada pohon-pohon yang sudah tidak memiliki daun. Mengering serta berjatuhan dibawah sana. "Kau ada dalam pengaruh ilmuan gila" "Ha?!" Tidak percaya akan penuturan Setta, Argebi ingin melepas tawa nya sekuat mungkin.
2.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 93 kali sebagai filosofi teratai
Baca
+Pustaka
Aku Berpindah Agama Karena Aib

Aku Berpindah Agama Karena Aib

"Tapi, Om lebih tertarik pada filosofi tentang bidak atau pion, bidak itu memang materi terkecil dalam permainan catur, tapi bidak punya loyalitas yang luar biasa, bidak itu selalu maju dan tidak pernah berjalan mundur, sekali bidak melangkah tidak ada istilah kembali, bidak itu rela berkorban, bidak itu selalu penuh perhitungan kapan harus melangkah, kapan harus berhenti sejenak. Apapun rintangannya tetap melangkah maju" Aku terkejut dengan perkataan Pak Hartono itu. Perkataannya seperti tamparan untukku. Aku yang semula ragu dan takut untuk bicara jujur mengenai Arleta, kini aku menjadi sangat yakin. Aku tidak akan mundur dan aku akan terus melangkah maju untuk memperjuangkan Arleta dan ca
9.63.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 109 kali sebagai filosofi teratai
Baca
+Pustaka
THE RIFTER: BOOK 1 CHILD OF THE PROPHECY

THE RIFTER: BOOK 1 CHILD OF THE PROPHECY

“Hahaha, menarik sekali aku tidak membenci seorang idealis, apa lagi anak muda sepertimu, aku akan menanti takdir seperti apa yang akan kau pilih.” Obrolan mereka tak kunjung mencapai kata akhir, Ketertarikan Ryo akan filsafat dan seluk beluk kehidupan menemukan lawan bicara yang tepat, tak terasa waktu berjalan sangat cepat dan menunjukan jam lima pagi, Ryo menyudahi obrolannya dengan menutup buku tebal itu.
105.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 117 kali sebagai filosofi teratai
Baca
+Pustaka
Balas Dendam sang Kultivator

Balas Dendam sang Kultivator

"Sebuah aturan yang lahir dari kehancuran dan pertumpahan darah?" "Terkadang," ujar Rayden, menuangkan teh ke dalam cangkir kecilnya sendiri, uap hangatnya menari-nari di udara yang dingin, "Hutan harus dibakar habis agar pohon-pohon baru yang lebih sehat bisa tumbuh." Kara menatapnya lekat, mencoba membaca sesuatu di balik wajah tenang itu. "Filosofi yang berbahaya, Tuan. Itu bisa dengan mudah menjadi alasan bagi seorang tiran."
1013.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 414 kali sebagai filosofi teratai
Baca
+Pustaka
KAUM TERAKHIR

KAUM TERAKHIR

45. Terpisah "Ratu jangan diambil hati atas ucapan Ibu Ratu Elle, dia memang sejak awal tidak menyukaimu jadi ucapannya memang suka melantur." Kyana hanya menghela napas panjang mendengar ucapan Archeros yang mencoba untuk menghiburnya. Ketiganya memang kini tengah berjalan menembus hutan Kerajaan Vampir. Bukan karena mereka kehilangan banyak tenaga usai melawan para monster yang mengacauan Kerajaan Vampir, tetapi memang karena kenginan Kyana sendiri sedangkan kedua pengawalnya hanya mengekor saja dalam diam di belakangnya. Barulah ketika mereka sudah cukup jauh dari pemukiman, Archeros memberanikan diri untuk bersuara.
2.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 76 kali sebagai filosofi teratai
Baca
+Pustaka
Bangkitnya Naga di dalam Tubuhku

Bangkitnya Naga di dalam Tubuhku

Sebuah teratai tampak mekar dari dalam tubuhnya, menyelimuti seluruh badannya. Itu adalah harta pelindung tubuh, bernama Teratai Langit Penolak Abadi, bahkan telah dilebur ke dalam tubuh Pendeta Gila. Begitu serangan yang mengancam nyawanya muncul, hanya dengan satu niat, harta ini akan aktif dan melindunginya.
9.51.1M DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 35.1K kali sebagai filosofi teratai
Tampilkan Ulasan (92)
Baca
+Pustaka
Raden Arya
saya do'akan penulis novel ini diberikan kesejahteraan dan kelancaran dalam hidupnya, juga kepada para pembaca setia. izin promosi ya kak... bagi yang suka novel dengan alur mafia dan balas dendam. yuk mampir ke novel Balas Dendam Putra Mafia Terkuat. terimakasih...
Adelia
izin promosi cerita kak judul: Amnesti Sang Eksekutor Aku hanya ingin satu malam pelarian untuk melupakan pengkhianatan mantan kekasihku. Sialnya, pria yang kutemui di bar dan hampir tidur denganku semalam adalah Arkana Wijaya, eksekutor perusahaan yang dikirim untuk memecat seluruh departemenku.
Baca Semua Ulasan
PELITA DI TENGAH GELAP

PELITA DI TENGAH GELAP

Cahaya kecilnya memantul di dinding, menari lembut bersama bayangan daun di luar jendela ia menatapnya lama, lalu mengambil buku hariannya dan menulis satu halaman terakhir, “Kami sudah melewati hujan, badai, dan malam yang panjang. Tapi dari semua itu, aku belajar satu hal, pelita yang paling kuat bukan yang paling terang, melainkan yang tetap menyala bahkan ketika angin mencoba memadamkannya. Dion aku janji, pelita ini akan terus ada. Untukku, untuk Dinda, dan untuk siapa pun yang percaya bahwa kejujuran masih punya tempat di dunia.”
825 DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 23 kali sebagai filosofi teratai
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1234568
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status