Ada sesuatu yang menggelitik tentang film thriller psikologis Korea Selatan seperti 'Forgotten'—film ini bukan sekadar kisah horor biasa, tapi labirin memori yang diputarbalikkan. Ceritanya mengikuti Jin-seok, seorang pemuda yang pindah ke rumah baru bersama keluarganya, hanya untuk menyaksikan kakaknya, Yoo-seok, diculik secara misterius dan kembali 19 hari kemudian dengan ingatan yang terfragmentasi. Apa yang dimulai sebagai drama keluarga biasa berubah menjadi teka-teki surreal ketika Jin-seok menemukan catatan tersembunyi dan rekaman video yang mengarah pada konspirasi lebih besar. Adegan klimaksnya—di mana terungkap bahwa 'Yoo-seok' sebenarnya adalah Jin-seok yang lebih tua, terjebak dalam eksperimen ilegal—menampar penonton dengan realisasi bahwa narasi utama adalah rekayasa trauma. Film ini seperti versi dewasa dari 'The Truman Show' yang dibumbui paranoia khas Korea.
Yang membuat 'Forgotten' istimewa adalah bagaimana ia bermain dengan persepsi waktu. Adegan-adegan awal yang tampak linear ternyata adalah kilas balik dari protagonis yang bingung, dan detail-detail kecil seperti perubahan model telepon genggam atau poster film yang tidak sesuai era menjadi petunjuk brilian. Sutradara Jang Hang-jun layak dipuji karena menyulam twist yang terasa earned, bukan sekadar kejutan murahan. Setelah menonton, saya menghabiskan berjam-jam memikirkan adegan dokumen medis yang menunjukkan dua nama berbeda—detail sepele yang ternyata kunci seluruh cerita.