Bukan Pernikahan impian
Ia hanya melirikku cepat, lalu tersenyum tipis.
“Masih awal banget, Ma,” ucapku bergetar malu tapi hangat.
“Justru karena masih awal,” ujar Mama Diana lembut. “Biar semua orang tahu kalau kita bersyukur. Syukuran kecil aja, doa bareng, undang tetangga, santri-santri TPA, atau keluarga dekat.”
Aku mengangguk perlahan. Rasanya dada ini dipenuhi perasaan yang susah dijelaskan. Antara bahagia, canggung, dan haru.
Bab Populer