Ibu, Jangan Tinggalkan Kami
"Ya, memang tidak seharusnya. Dia hanya tempat pelarian. Dia hanya ingat namanya Adiyaksa, dia sebatang kara dan miskin ...."
Aku langsung keluar ruangan, bersama dengan Ibu di dalam tempat yang sama membuatku gelisah dan tidak nyaman. Aku masuk ke ruang ganti, duduk bersandar di lemari loker. Memejamkan mata, menetralisir amarah yang menyebar.
Kedatangan Ibu membuat diriku sedikit tidak fokus dengan pekerjaan. Menurut Risa, aku cemberut terus sepanjang bekerja. Hanya tersenyum saat bicara dengan pelanggan kafe.