Ada rasa berat di dada setiap kali mantan istri menelepon untuk menanyakan detail aktivitasku. Aku belajar bahwa membangun batasan itu penting, tapi harus dilakukan dengan lembut. Awalnya, aku mencoba mengabaikannya, tapi itu justru membuatnya semakin intens. Konsistensi adalah kuncinya—menetapkan waktu khusus untuk komunikasi yang penting saja, dan menolak dengan tegas tapi sopan ketika dia mencoba mencampuri urusan pribadi.
Aku juga mulai mendokumentasikan setiap interaksi yang terasa mengganggu, siapa tahu diperlukan bukti di kemudian hari. Teman dekat menyaranku untuk melibatkan pihak ketiga seperti konselor atau mediator jika situasinya tidak membaik. Yang paling sulit adalah menjaga emosi tetap stabil, karena setiap kali dia marah, aku cenderung merasa bersalah. Perlahan tapi pasti, aku belajar bahwa aku tidak bertanggung jawab atas kebahagiaannya lagi.