Membahas kata yang menyakitkan seperti 'insult' sering membuatku mikir dua kali tentang peran editor dalam menyampaikan makna tanpa menambah luka.
Aku biasanya melihatnya dari sudut pembaca yang mungkin belum paham konteks budaya atau tingkat kebahasaan. Kalau naskah itu untuk audiens umum, memberi penjelasan singkat—misalnya catatan kaki atau glosarium—bisa sangat membantu. Penjelasan tak harus panjang: cukup jelas-kan apakah 'insult' berarti hinaan verbal, ejekan, atau penghinaan yang sengaja merendahkan martabat orang lain.
Di sisi lain, kalau teksnya fiksi dan tujuan penulis adalah menghadirkan suasana kasar atau konfrontasi, aku lebih memilih mempertahankan kata itu sambil menambahkan konteks emosional lewat dialog atau aksi. Intinya, editor perlu peka: jelaskan saat pembaca benar-benar butuh, dan jangan otonomi-kan makna kalau itu akan merusak nuansa yang ingin ditampilkan. Aku cenderung memilih keseimbangan antara kejelasan dan kesetiaan pada teks, sehingga pembaca tetap terhubung tanpa bingung atau tersakiti.