PEREMPUAN MASA LALU
“Bisakah aku jadi langit? Biar kulindungi mendungmu. Tak kubiarkan luka berkawan denganmu.”
“Malah nyanyi.” Rafan terlihat kesal.
“Ih, aku serius, Fan.”
“Udah, kalau mau berantem tunggu aku pulang aja, ya! Berantemnya juga kalau hujan sudah reda.” Farah sewot. Memang seharusnya, sih, karena ia ada di sini.
Kami melirik jam, sudah mendekati magrib. “Far, hujannya makin deras ini. Jalanan pasti licin. Kamu nginap aja, ya!”
Hot Chapters