Boneka Tawanan Sang Mafia
Air mataku luruh bercampur air hujan, mengaburkan pandanganku yang mulai memutih karena kelelahan ekstrem.
Di depanku, sebuah pagar besi pembatas area hanggar privat bandara tampak sedikit terbuka. Tanpa berpikir panjang, didorong oleh insting bertahan hidup yang murni, aku menyelinap masuk menembus celah sempit itu. Kakiku yang telanjang terasa perih, berdarah karena tergores kerikil tajam di atas beton landasan yang membeku.
Tepat di tengah landasan, sebuah jet pribadi mewah berwarna hitam legam dengan logo naga perak sedang bersiap untuk lepas landas.