Pembalasan Sang Dokter Jenius
Ia tahu, kata-kata tidak akan lagi berguna di sini.
Ia mengambil satu langkah kecil ke depan, memposisikan dirinya sedikit di depan Pak Bima. Sebuah gerakan kecil, namun penuh dengan makna. Ia tidak lagi bersembunyi di belakang seniornya. Ia kini berdiri di depannya.
“Aku tidak suka ditertawakan,” kata Joko pelan, suaranya terdengar begitu tenang di tengah ketegangan itu. “Dan aku juga tidak suka… dengan orang-orang yang menindas yang lemah.”