Mencintai Musuh Ayahku
Tangannya yang kurus perlahan terangkat, dengan gemetar yang luar biasa, ia mencoba menyentuh pipi putrinya.
"Ka... rin..." suara itu sangat serak, hampir menyerupai bisikan angin yang lewat, namun bagi Karin, itu adalah simfoni paling indah yang pernah ia dengar seumur hidupnya.
Tangis Karin pecah seketika. Ia membenamkan wajahnya di pangkuan ayahnya, menangis sejadi-jadinya semua beban, semua rasa sakit hati, dan semua keletihan selama sepuluh tahun pelarian seolah tumpah melalui air mata itu. Tuan Anindita mengelus rambut Karin dengan gerakan tangan yang lemah namun penuh dengan cinta seorang ayah yang baru saja kembali dari kegelapan panjang.