Ada sesuatu yang magis tentang merangkai kata-kata harapan—seperti menulis surat cinta untuk waktu yang belum kita temui. Aku selalu merasa yang terbaik datang dari pengalaman personal. Misalnya, setelah menonton film 'The Pursuit of Happyness', aku mulai menulis harapan dengan menggambarkan detil kecil: 'Semoga suatu hari nanti, kamu bisa duduk di bangku taman sambil makan es krim, dan tiba-tiba tersadar bahwa semua perjuanganmu akhirnya terbayar.' Kuncinya adalah memadukan emosi universal dengan keunikan cerita hidup seseorang.
Juga, aku sering terinspirasi oleh lirik lagu atau puisi. Kutipan dari novel 'The Alchemist'—'Ketika kamu menginginkan sesuatu, seluruh alam semesta bersatu untuk membantumu mencapainya'—bisa diolah menjadi harapan yang lebih intim: 'Semoga langit selalu bisikkan arah ketika kamu tersesat, dan bumi tunjukkan jalannya.' Hindari klise, gali deeper, seperti harapan untuk bisa 'merasakan hujan tanpa takut badai' alih-alih sekadar 'sukses dan bahagia'.