Biarkan Aku Bahagia
kata-kata itu yang selalu keluar dari mulut manisnya.
“Maaf ya! Aku masih banyak urusan. Lain kali saja kamu menelepon jika aku sudah tidak sibuk.”
Aku langsung mematikan telepon itu. Merinding bulu romaku ketika mengingat perilakunya dulu padaku. Layaknya kotoran yang menjijikkan diriku dianggapnya. Padahal jika mengingat dirinya, bahkan jauh lebih buruk dariku. Bukannya aku tak tahu apa yang dilakukannya. Pekerjaannya saja membuatku jijik. Ya, ia bekerja sebagai penggoda suami-suami orang yang lagi kesepian. Suami yang terkadang ditinggal istrinya pergi lama, atau merantau ke negeri seberang. Miris, tentu sangat miris. Tapi, aku mencoba menutup mata dan telingaku. Semua itu kututup rapat-
인기 회차