Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
DENDAM IBU TIRI

DENDAM IBU TIRI

Netra itu, penuh dendam, amarah, kebencian, sesekali tangannya mengepal, menyiratkan gemuruh emosi yang siap diledakkan kapanpun . Bersambung ....
5.58.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 176 kali sebagai kata kata rimuru tempest
Baca
+Pustaka
Teror Kumara Merah

Teror Kumara Merah

Semakin gugup ketika ia menyadari malam itu adalah malam jumat kliwon menurut penanggalan kalender Jawa. Deg! Parmin teringat ketika pemesan mengirim "chat" sebelumnya, waktu di ponselnya sudah menampilkan jam dua belas malam. Mendadak terlihat dengan jelas olehnya, ruangan-ruangan yang dia lewati semua sama dengan pintu dan jendela tertutup rapat. Parmin mencoba mengintip ke dalam melalui jendela. Hanya ada gelap, tanpa setitik pun cahaya terlihat. Di atas pintu tak ada papan penanda. Parmin yang kebingungan, ia mencoba mengetuk-ngetuk pintu dan jendela, berharap ada yang terbangun.
102.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 75 kali sebagai kata kata rimuru tempest
Baca
+Pustaka
Kata Mereka, Aku Suka Cari Perhatian

Kata Mereka, Aku Suka Cari Perhatian

Tengah malam, jiwaku melayang keluar dari lantai dingin di ruang bawah tanah. Pintu kamar tidurku tiba-tiba terbuka dengan keras. Kakakku, Dani Martha, menerobos masuk. Dia menatap sekeliling kamar yang kosong, lalu mencibir. “Karin, apa kamu nggak bosan bermain petak umpet? Kamu sudah besar, berhenti bermain-main!”
15.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 375 kali sebagai kata kata rimuru tempest
Baca
+Pustaka
Hati yang Remuk dan Mati

Hati yang Remuk dan Mati

Ketika dia mengobrol dengan ART secara diam-diam, bahkan sebelum keluarkan uang yang sudah disiapkan, ART langsung setuju untuk membantunya cabut rambut Steph hanya untuk lampiaskan amarahnya. Di lantai atas, lima pelayan menyajikan hidangan tepat waktu. Seorang pelayan wanita mengenakan masker, membawa piring dengan penutup hidangan gaya barat dan berjalan ke sisi Dave. Kemudian dia perlahan membuka tutupnya. Tidak ada hidangan di atas piring, tetapi empat lembar salinan. Orang-orang di meja yang sama segera melihat ke atas. Karena suara di sini terlalu keras, para tamu di meja sebelah pun mencondongkan kepala untuk melihat.
36.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.1K kali sebagai kata kata rimuru tempest
Baca
+Pustaka
Sisa Rasa

Sisa Rasa

kata Tante Vina sambil tersenyum. Selin pura-pura membaca menu. Padahal huruf- hurufnya menari nggak jelas. Tangannya dingin. Rendra duduk tegap. Terlalu tenang. Terlalu rapi. Dan itu bikin Selin makin nggak nyaman. Tante Vina membuka obrolan. “Kalian juga kelihatan sama-sama kaget.” Selin tertawa kecil. “Iya, Tante. Jujur kaget.”
10799 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 29 kali sebagai kata kata rimuru tempest
Baca
+Pustaka
Whispers of the Lost Princess

Whispers of the Lost Princess

Maka dimulailah koreografi maut itu, Para penyihir menahan makhluk-makhluk kecil agar tidak merangsek ke jantung kota. Bill memimpin serangan komposit. Badai petir dikombinasikan dengan badai api dan pusaran angin, ia memanggil "Aurora Tempest" sebuah teknik tua yang membuat langitnya sendiri menjerit, menghancurkan kawanan kegelapan menjadi abu sambil memecah gelombang gelap yang menempel pada kulit makhluk purba.
10786 DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 27 kali sebagai kata kata rimuru tempest
Baca
+Pustaka
Kita yang Terluka

Kita yang Terluka

Dia mencebik kesal dan akhirnya duduk sambil bersandar pada Ammar yang mengelus rambutnya pelan. “Papa, nanti kami mau ke rumah Om Indra. Rika sudah lihat rumahnya, besaaaaaaarrrrrrrr sekali. Disana juga ada kamar Rika. Kamarnya bagus sekali. Waktu itu Om Indra tanya Rika suka apa, Rika jawab aja suka Kuromi. Eh … ternyata kamarnya dicat ungu. Ada boneka kuromi gede dan sprei sama sarung bantal juga motif kuromi. Ya, ampun, Rika senang sekali. Jadi nggak sabar mau tidur disana.”
1017.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 352 kali sebagai kata kata rimuru tempest
Baca
+Pustaka
Rimba Memburu Senala

Rimba Memburu Senala

Pepohonan menjulang dan gemercik air terjun menciptakan melodi abadi, bagai memeluk anak itu dalam keajaiban alam. Pagi itu, dengan tongkat rotan di tangannya, Rimba mengiris udara yang dingin, mengukir bayangan gerakan yang sarat energi dan kegigihan. Sinar matahari yang mulai naik menambah kilau peluh di kulitnya. Dari atas, Calistung turun layaknya burung rajawali yang melayang, menguji muridnya dengan serangan-serangan yang tak terduga. Rimba bertahan, menyerang balik, hingga satu gerakan cepat dari gurunya membuat tongkat rotan itu terlepas dari genggamannya. Calistung tersenyum, menepuk lembut kepala Rimba. “Kamu telah berusaha keras, Anakku. Sekarang waktunya kita makan,” ucapnya penu
101.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 64 kali sebagai kata kata rimuru tempest
Baca
+Pustaka
Kinan

Kinan

Nora Althea Skykaninakani
Cepat pilih yang kau mau Kinan merengek pelan. "Pria selanjutnya pasti lebih parah "Aku tidak punya banyak waktu, cepat pilih Kinan lagi-lagi mendengus kesal, ia menarik asal foto tersebut tanpa memikirkannya terlebih dahul "Emm, oke." Noah memperlihatkan foto pria yang harus Kinan temui besok. "Darren, 29 tahun, Koki di sebuah restoran ternama
108.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 307 kali sebagai kata kata rimuru tempest
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
456789
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status