Pejantan Tangguhku
Mencabik-cabik hatinya secara perlahan.
‘Kamu jahat Bram! aku benci kamu!’ batin Catty. Tangis pilu tidak berhenti keluar. Padahal, dia sempat dibuat tersanjung akan sikap Bram. Nyatanya, di belakangnya, Bram merendahkannya.
‘Apa salahku? Kenapa aku selalu diperlakukan secara hina oleh orang lain? Bahkan Bram, yang sudah kuanggap baik, nyatanya sama saja seperti dulu. Sekali brengsek. Tetap brengsek.”