Hai Om, Aku Calon Istrimu!
katanya datar, tapi terdengar menggoda, “kamu harus bayar mahal untuk waktuku yang sudah terbuang percuma.”
Aku berpura-pura meringis. “Duh, kalau uang sih aku nggak punya banyak, Om. Tabungan aja sering ludes gara-gara checkout barang online. Tapi aku punya sesuatu yang lebih berharga dari itu.”
Om Kais menyandarkan tubuhnya, menatapku penuh minat. “Oh ya? Apa itu?”
Aku menyengir lebar, lalu menjawab, “Kesetiaan dan ketulusan.”