Ada suatu momen ketika membaca 'The Time Traveler's Wife', aku terpana oleh cara Audrey Niffenegger menjalin waktu bukan sekadar sebagai latar, tapi sebagai karakter itu sendiri. Novel ini membuatku merenung: apakah kita benar-benar pemilik waktu, atau justru tawanannya? Lewat Henry yang terlempar bolak-balik di linimasa, aku melihat kehidupan manusia sebagai mozaik fragmen-fragmen temporal yang saling bertabrakan. Yang menarik, justru dalam ketidakteraturan itu, cinta Clare dan Henry menemukan ritmenya sendiri.
Perspektif lain kubaca di 'Slaughterhouse-Five' karya Vonnegut, di Billy Pilgrim menjadi 'unstuck in time'. Di sini, waktu adalah ilusi yang dipaksakan oleh persepsi manusia. Filosofi 'begitulah adanya' (so it goes) yang diulang-ulang novel ini justru menohok: dalam skala kosmik, kehidupan manusia hanyalah titik kecil yang tak berarti, tapi sekaligus sangat berharga karena itulah satu-satunya yang kita miliki. Ruang dan waktu dalam novel-novel semacam ini selalu mengingatkanku bahwa kita mungkin hanya wayang dalam sandiwara dimensi.