GATAKA : Kesengsaraan Berujung Kematian
Batu cempaka birunya redup, seakan kehilangan cahayanya.
Di tengah hamparan tanah basah, rumah tua itu berdiri kokoh, menjulang tinggi. Angin berhembus dingin, membawa serta hawa mistis yang menusuk tulang.
“Aku enggak habis pikir,” gumam Ria, lebih pada dirinya sendiri. “Kenapa tempat seangker ini dijadikan jalur pendakian? Gimana kalau ada yang punya niat nggak baik? Dengan aura gelap begini, bukannya tambah sehat malah bisa sakit parah. Aku yakin, kalau kita pulang dari sini, langsung masuk rumah sakit,” canda Ria, meskipun suaranya terdengar agak gemetar. “Mungkin diagnosisnya: keracunan aura negatif atau semacamnya.”
Hot Chapters