Ranjang Ternoda
“Tidak ada yang kurang, aku hanya kecewa kepadamu.”
“Rasa kecewa apa? Aku tidak mengerti dengan itu. Aku sudah lelah bekerja, mengurusi anak-anak dan pekerjaan rumah. Tapi apa yang aku dapatkan dari semua itu? Aku hanya mendapatkan air mata, rasa lelah yang tiada habis dan kamu tidak bersyukur dengan apa yang kulakukan. Semuanya serba salah, aku salah mencuci pakaian kamu marah, aku salah membuat susu pun kamu memarahiku. Aku harus apa, Karan? Aku tanya, apakah istrimu dulu sanggup melakukan segalanya sepertiku?”
“Ya, aku sadar istriku dulu tidak bisa apa-apa. Kamu bicara tidak mau dibandingkan, tapi kenapa terus membanding-bandingkan dirimu dengan dirinya?”