Ide Gila Bapak!
Aku menghela napas panjang, "Kenapa? Jangan jadikan kegagalan sebagai patokan. In Syaa Allah, yang terakhir ini akan jauh lebih baik, Wi."
Dahiku mengernyit, lalu, apa maksudnya?
"Pikirkanlah," lanjutnya lagi, dengan senyum menawan.
"Apa kamu belum membaca semua buku pemberianku? Di sana, ada banyak tentang pernikahan."
"Belum selesai, Mir. Nanti aku coba sambung lagi," kataku, mengangguk. Menyembunyikan senyum dengan debaran tak menentu.
Hot Chapters