OBSESI CINTA TUAN MUDA
jeritku.
Entah keberanian dari mana aku bisa berucap seperti itu di hadapan monster seperti Galang.
“Aku? Kau bilang aku bukan manusia? Ariana sayang, lihat aku baik-baik. Aku manusia, sama sepertimu, punya hidung, bibir, tangan, kaki, semuanya normal. Kalau aku bukan manusia, lantas aku ini apa? Ayolah, Ariana, jangan bersikap seperti ini. Ada banyak yang ingin aku ceritakan sama kamu. Kita … masuk kamar lagi, yuk! Sarapannya sudah siap. Kita sarapan di sana. Ayo, jangan buat aku sedih dengan sikap penolakanmu, karena aku tidak suka!”