Mata Ajaib Pembaca Pikiran
“Tedi, dengar aku. Aku peduli. Aku benar-benar peduli padamu. Teman-temanmu, meski mereka nggak selalu menunjukkannya, mereka peduli. Guru-gurumu juga peduli. Dan aku yakin, jauh di lubuk hati orangtuamu, mereka juga sayang padamu. Kadang mereka hanya tersesat dalam masalah mereka sendiri. Tapi mereka masih orangtuamu. Aku yakin, mereka mencintaimu, meski cara mereka tidak selalu benar.”
Tedi menoleh pelan, matanya berkaca-kaca, penuh keraguan, namun ada secercah harapan yang mulai muncul. “Kau pikir begitu? Kau benar-benar yakin?” suaranya terdengar putus asa, seolah mencari pegangan di tengah lautan kepedihan.
Bab Populer