Kacamata Penakluk
Kuli yang kucel itu berhenti tepat di belakang Sari, pandangannya terkunci pada pemandangan bokong yang membusung sempurna itu.
Napasnya memburu, bau rokok kretek dan keringat bercampur dengan aroma parfum Sari yang menguar. Sari tetap pada posisi menunggingnya, seolah sengaja memamerkan diri, menantang Mardi untuk melihat sejauh mana keberaniannya.
Sebuah seringai tipis terukir di bibirku. Inilah yang kuinginkan.
Dengan gerakan yang jauh lebih berani daripada yang kubayangkan, tangan kanan kuli itu, yang masih kasar berlumuran sisa-sisa pasir dan semen, terulur perlahan.
Hot Chapters