Dikejar Lagi oleh Istri CEOku
Baginya, jarak itu adalah pemisah antara hidup dan mati yang sangat tipis.
Tatapan Aokun seperti api gaib yang menyala jauh di dalam es purba. Hawa dinginnya menusuk, tetapi juga membakar hasrat untuk menghancurkan.
Tatapan itu menyapu wajah Luther yang pucat pasi sekaligus berlumuran darah, menyapu tangan yang gemetar karena kehabisan tenaga tetapi tetap mencengkeram kuat gagang pedang. Pada akhirnya, tatapannya tertuju pada sepasang mata yang tetap jernih dan dalam, meskipun dalam keputusasaan. Di sana tidak terlihat sedikit pun ketakutan atau kebingungan.