Samaran Terakhir
"Aku tidak akan mundur lagi."
Sosok berjubah itu mendekat, langkahnya nyaris tak terdengar di atas tanah basah. Tangan kurusnya terulur, menunjukkan sesuatu yang berkilau di telapak tangannya sebuah cermin kecil, dengan bingkai perak yang terukir dengan simbol-simbol kuno. Adrian memandang cermin itu dengan hati yang berdebar. Di permukaannya yang berkilau, ia melihat bayangannya sendiri, tapi bukan sebagai dirinya saat ini, melainkan sebagai anak kecil yang ketakutan, berlari di antara pohon-pohon, mencoba menghindari bayangan besar tanpa wajah.
"Lihatlah," suara sosok itu bergema lagi, "dan hadapi dirimu yang sesungguhnya."