Gadis Terakhir
“Masih mencintaiku… bahkan saat aku cerewet, malas, dan suka ganggu kamu nyuci piring.”
Sifabella tertawa pelan, lalu memeluknya erat.
Malam pun melanjutkan alurnya dengan tak tergesa, tak terlalu sunyi. Hanya ada irama napas dua insan yang saling percaya bahwa cinta bisa jadi tempat pulang paling aman, bahkan setelah hari-hari paling lelah.
Dan di kamar itu, di rumah staycation mereka di pinggir laut Sydney, cinta tidak hanya tinggal — tapi hidup, bernapas, dan menyatu.